SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA-----SELAMAT MENIKMATI INFORMASI YANG ADA------JANGAN LUPA FOLOW SAYA DI TWITTER------JANGAN LUPA JUGA ADD FACEBOOK SAYA ^_^------SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1435 H-----MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN Menyusun RPP berbasis Kontekstual (CTL) | IQBAL IMANUDIN

Menyusun RPP berbasis Kontekstual (CTL)

Menyusun Rencana Pembelajaran Berbasis Kontekstual”
12022009
Dalam pemelajaran kontekstual, program pemelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang direncanakan guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pemelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, langkah-langkah pemelajaran, dan authentic assessment-nya. Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar “rencana pribadi” tentang apa yang akan dikerjakan bersama siswanya. Gambaran selama ini bahwa RP adalah laporan untuk kepala sekolah atau pihak lain harus dibuang jauh-jauh. RP-lah yang mengingatkan guru tentang benda apa yang harus dipersiapkan, alat apa yang harus dibawa, berapa banyak, ukuran berapa, dan langkah-langkah apa yang akan dikerjakan siswa. RP lah yang mengingatkan guru ketika akan berangkat ke sekolah, “Oh, aku lupa belum menggunting kertas karton menjadi empat bagian untuk dibagikan ke anak-anak nanti!”.
Secara umum, tidak ada perbedaan yang mendasar format
antara program pemelajaran konvensional dengan program pemelajaran kontekstual. Sekali lagi, yang membedakannyahanya pada penekanannya. Program pemelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pemelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pemelajaran.

CONTOH RENCANA PEMELAJARAN BERBASIS CTL

Topik : Mendeskripsikan Benda Misteri
Kompetensi Dasar : Menulis Paragraf Deskripsi
Bidang Studi : Bahasa Indonesia
Kelas/ smter : 2/ 2
Wktu : 90 menit
A. TUJUAN
Melatih siswa mendeskripsikan ciri dan menemukan karateristik benda-benda, kemudian mengungkapkan dalam sebuah deskripsi.
B. MEDIA
Untuk melaksanakan kegiatan diperlukan media
1. 4 buah benda misteri yang dibungkus rapi (korek api, kotak sabun, akar pohon, dll)
2. 1 lembar pengamatan
C. SKENARIO PEMELAJARAN
1.      Guru menjelaskan rencana kegiatan saat itu, yaitu mendeskripsikan benda misteri. Kemampuan yang dilatihkan adalah cara mendeskripsikan atau menemukan ciri benda-benda.
2.      Siswa dibagi dalam empat kelompok, dengan cara guru menghitung siswa satu, dua, tiga, dan empat. Yang nomor satu, masuk kelompok satu, yang nomor dua masuk kelompok dua, dan seterusnya.
3.      Guru membagi benda yang telah disiapkan. Jangan sampai kelompok lain “mengintip” kemudian dibagikan juga blangko.
4.      Siswa mendeskripsikan benda misteri dengan mengisi balngko yang ada. Pertama menjelaskan ciri benda dengan dua kata, kemudian dalam kalimat. Usahakan deskripsinya lengkap, tetapi tidak merujuk pada benda apa itu.
5.      Setelah 15 menit, secara bergantian masing-masing kelompok mendeskripsikan secara lisan benda itu. Setelah itu, kelompok lain menebaknya. Sebelum menebak, kelompok lain boleh bertanya.
6.      Siswa menyusun sebuah paragraf deskripsi berdasarkan data yang diperolahnya secara kelompok.
D. PENILAIAN
Data kemajuan siswa diperoleh dari :
(1). Partisipasi setiap siswa dalam kelompok
(2). Lembar pengumpulan data deskriptif
(3). Cara siswa menyampaikan ulasan deskriptif secara lisan
(4). Paragraf deskriptif yang ditulis siswa.
catatan !
Setelah berakhir, lakukan refleksi atas pemelajaran itu !
1. Tanyakan kepada siswa, “Apakah kalian senang dengan kegiatan tadi”? Dengan cara itu, kalian lebih mudah menyusun paragraf deksripsi.
2. Refleksi CTL
a. Proses inquiry muncul pada cara dan kiat mendekripsikan yang ditempuh siswa.
b. Questioning muncul ketika siswa (peserta) mengamati benda, bertanya, mengajukan usul, dan menebak.
c. Learning Community muncul pada kerja kelompok dan saling menebak dengan kelopok lain.
NC: contoh di atas masih terbuka untuk disempurnakan!……………..
diposkan oleh IIS 2Y | 03:50 | 0 komentar http://www.blogger.com/img/icon18_edit_allbkg.gif
Kamis, 2009 Januari 29
Pendekatan “CTL” (Cotextual Teaching And Learning)
Mengajar bukanlah sebuah pekerjaan mudah dan banyak melibatkan pelbagai komponen yang mendukung seorang guru ketika berada di kelas. Pelbagai pendekatan yang ada dalam pemelajaran harus dikuasai ketika berada di kelas. Kepintaran seorang guru memakai pariasi dalam pemelajaran ketika mengajar di kelas akan bergantung kepada hasil belajar siswa, sehingga lingkungan kelas tidak monoton dan siswa merasa bosan atau jenuh ketika berada di kelas. Belajar akan lebih bermakna jika anak ‘mengalami’ apa yang dipelajarinya, bukan ‘mengetahui’-nya. Pemelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi ‘mengingat’ jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Pendekatan CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannyadalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pemelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pemelajaran berlangsung alami dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Stategi pemelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama, yaitu kontruktivisme (contructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection) dan penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment).
Stategi pengajaran yang berasosiasi dengan CTL :
1. CBSA
2. Pendekatan Proses
3. Life Skills Education
Kata-kata kunci pemelajaran CTL : mengutamakan pengalaman nyata, berpikir tingkat tinggi, berpusat pada siswa, siswa aktif, kritis, dan aktif, dekat dengan kehidupan nyata, perubahan perilaku, siswa praktek bukan menghapal, Learning bukan Teaching, pendidikan (Education) bukan pengajaran (Instruction), memecahkan masalah, hasil belajar diukur dengan pelbagai cara bukan hanya dengan tes.


Category: 0 komentar

0 komentar:

Posting Komentar