Menyusun Rencana Pembelajaran Berbasis Kontekstual”
12022009
Dalam pemelajaran
kontekstual, program pemelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang
direncanakan guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan
dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya.
Dalam program tercermin tujuan pemelajaran, media untuk mencapai tujuan
tersebut, langkah-langkah pemelajaran, dan authentic assessment-nya.
Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar “rencana pribadi”
tentang apa yang akan dikerjakan bersama siswanya. Gambaran selama ini bahwa RP
adalah laporan untuk kepala sekolah atau pihak lain harus dibuang jauh-jauh.
RP-lah yang mengingatkan guru tentang benda apa yang harus dipersiapkan, alat apa
yang harus dibawa, berapa banyak, ukuran berapa, dan langkah-langkah apa yang
akan dikerjakan siswa. RP lah yang mengingatkan guru ketika akan berangkat ke
sekolah, “Oh, aku lupa belum menggunting kertas karton menjadi empat bagian
untuk dibagikan ke anak-anak nanti!”.
Secara umum, tidak ada
perbedaan yang mendasar format
antara program pemelajaran konvensional dengan
program pemelajaran kontekstual. Sekali lagi, yang membedakannyahanya pada
penekanannya. Program pemelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi
tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk
pemelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pemelajaran.CONTOH RENCANA PEMELAJARAN BERBASIS CTL
Topik : Mendeskripsikan Benda Misteri
Kompetensi Dasar : Menulis Paragraf Deskripsi
Bidang Studi : Bahasa Indonesia
Kelas/ smter : 2/ 2
Wktu : 90 menit
A. TUJUAN
Melatih siswa
mendeskripsikan ciri dan menemukan karateristik benda-benda, kemudian
mengungkapkan dalam sebuah deskripsi.
B. MEDIA
Untuk melaksanakan kegiatan diperlukan media
1. 4 buah benda misteri yang dibungkus rapi (korek api, kotak sabun, akar pohon, dll)
2. 1 lembar pengamatan
Untuk melaksanakan kegiatan diperlukan media
1. 4 buah benda misteri yang dibungkus rapi (korek api, kotak sabun, akar pohon, dll)
2. 1 lembar pengamatan
C. SKENARIO PEMELAJARAN
1.
Guru menjelaskan rencana
kegiatan saat itu, yaitu mendeskripsikan benda misteri. Kemampuan yang dilatihkan
adalah cara mendeskripsikan atau menemukan ciri benda-benda.
2.
Siswa dibagi dalam empat
kelompok, dengan cara guru menghitung siswa satu, dua, tiga, dan empat. Yang
nomor satu, masuk kelompok satu, yang nomor dua masuk kelompok dua, dan
seterusnya.
3.
Guru membagi benda yang
telah disiapkan. Jangan sampai kelompok lain “mengintip” kemudian dibagikan
juga blangko.
4.
Siswa mendeskripsikan
benda misteri dengan mengisi balngko yang ada. Pertama menjelaskan ciri benda
dengan dua kata, kemudian dalam kalimat. Usahakan deskripsinya lengkap, tetapi
tidak merujuk pada benda apa itu.
5.
Setelah 15 menit, secara
bergantian masing-masing kelompok mendeskripsikan secara lisan benda itu.
Setelah itu, kelompok lain menebaknya. Sebelum menebak, kelompok lain boleh
bertanya.
6.
Siswa menyusun sebuah
paragraf deskripsi berdasarkan data yang diperolahnya secara kelompok.
D. PENILAIAN
Data kemajuan siswa diperoleh dari :
(1). Partisipasi setiap siswa dalam kelompok
(2). Lembar pengumpulan data deskriptif
(3). Cara siswa menyampaikan ulasan deskriptif secara lisan
(4). Paragraf deskriptif yang ditulis siswa.
Data kemajuan siswa diperoleh dari :
(1). Partisipasi setiap siswa dalam kelompok
(2). Lembar pengumpulan data deskriptif
(3). Cara siswa menyampaikan ulasan deskriptif secara lisan
(4). Paragraf deskriptif yang ditulis siswa.
catatan !
Setelah berakhir, lakukan refleksi atas pemelajaran itu !
1. Tanyakan kepada siswa, “Apakah kalian senang dengan kegiatan tadi”? Dengan cara itu, kalian lebih mudah menyusun paragraf deksripsi.
2. Refleksi CTL
a. Proses inquiry muncul pada cara dan kiat mendekripsikan yang ditempuh siswa.
b. Questioning muncul ketika siswa (peserta) mengamati benda, bertanya, mengajukan usul, dan menebak.
c. Learning Community muncul pada kerja kelompok dan saling menebak dengan kelopok lain.
Setelah berakhir, lakukan refleksi atas pemelajaran itu !
1. Tanyakan kepada siswa, “Apakah kalian senang dengan kegiatan tadi”? Dengan cara itu, kalian lebih mudah menyusun paragraf deksripsi.
2. Refleksi CTL
a. Proses inquiry muncul pada cara dan kiat mendekripsikan yang ditempuh siswa.
b. Questioning muncul ketika siswa (peserta) mengamati benda, bertanya, mengajukan usul, dan menebak.
c. Learning Community muncul pada kerja kelompok dan saling menebak dengan kelopok lain.
NC: contoh di atas masih terbuka untuk
disempurnakan!……………..
Kamis, 2009 Januari 29
Mengajar bukanlah sebuah pekerjaan mudah dan
banyak melibatkan pelbagai komponen yang mendukung seorang guru ketika berada
di kelas. Pelbagai pendekatan yang ada dalam pemelajaran harus dikuasai ketika
berada di kelas. Kepintaran seorang guru memakai pariasi dalam pemelajaran
ketika mengajar di kelas akan bergantung kepada hasil belajar siswa, sehingga
lingkungan kelas tidak monoton dan siswa merasa bosan atau jenuh ketika berada
di kelas. Belajar akan lebih bermakna jika anak ‘mengalami’ apa yang
dipelajarinya, bukan ‘mengetahui’-nya. Pemelajaran yang berorientasi target
penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi ‘mengingat’ jangka pendek,
tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka
panjang.
Pendekatan CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannyadalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pemelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pemelajaran berlangsung alami dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Stategi pemelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama, yaitu kontruktivisme (contructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection) dan penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment).
Stategi pengajaran yang berasosiasi dengan CTL :
1. CBSA
2. Pendekatan Proses
3. Life Skills Education
Kata-kata kunci pemelajaran CTL : mengutamakan pengalaman nyata, berpikir tingkat tinggi, berpusat pada siswa, siswa aktif, kritis, dan aktif, dekat dengan kehidupan nyata, perubahan perilaku, siswa praktek bukan menghapal, Learning bukan Teaching, pendidikan (Education) bukan pengajaran (Instruction), memecahkan masalah, hasil belajar diukur dengan pelbagai cara bukan hanya dengan tes.
Pendekatan CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannyadalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pemelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pemelajaran berlangsung alami dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Stategi pemelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama, yaitu kontruktivisme (contructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection) dan penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment).
Stategi pengajaran yang berasosiasi dengan CTL :
1. CBSA
2. Pendekatan Proses
3. Life Skills Education
Kata-kata kunci pemelajaran CTL : mengutamakan pengalaman nyata, berpikir tingkat tinggi, berpusat pada siswa, siswa aktif, kritis, dan aktif, dekat dengan kehidupan nyata, perubahan perilaku, siswa praktek bukan menghapal, Learning bukan Teaching, pendidikan (Education) bukan pengajaran (Instruction), memecahkan masalah, hasil belajar diukur dengan pelbagai cara bukan hanya dengan tes.




0 komentar:
Posting Komentar